Rumah Limas

    Rumah adat limas adalah tempat tinggal yang dipergunakan olehs ebuah keluarga untuk membina kehidupan kekeluargaan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pada hari-hari tertentu termasuk upacara-upacara ada yang ada hubungannya dengan keluarga tersebut.
Nama limas untuk rumah adat berasal dari kata-kata lima dan emas, dengan mengidentikan emas dengan lima sifatnya yaitu sebagai keagungan dan kebesaran, rukun damai, adab yang sopan santun, aman, subur sentosa serta makmur sejahtera. Dengan demikian, rumah adat limas mengandung makna yang sangat mendalam dan merupakan simbolisasi dari suatu ungkapan yang antara lain diekspresikan dalam bentuk atap yang curam dan lima tingkatan pada lantai atau kekijing.
Rumah adat limas akan selalu menghadap ke arah Timur atau Selatan, jarang menghadap ke arah Utara bilamana tidak diperlukan. Arah Barat sebaiknya dicegah, karena kurang sehat dan banyak menerima angin Barat pada waktu musim hujan di samping menghadap ke arah matahari terbenam. Rumah-rumah yang menghadap ke arah Timur, kecuali mendapatkan matahari pagi sehingga sehat, juga akan menerima jembisan angin laut pada waktu musim panas. Sesuai dengan kedudukan penghuninya di dalam masyarakat, rumah adat limas terbagi pula dalam tingkatan-tingkatan, yaitu dimulai dari tingkatan yang paling besar (15 x 28 depa atau 22,5 x 42 m2 untuk golongan demang sampai pangeran) sampai kepada yang kecil untuk anggota masyarakat biasa (7 x 20 depa atau 10,5 x 30 m2).
Induk rumah pada umumnya terdiri dari ruangan kepala keluarga, ruangan gegajah atau ruangan adat, rungan keputran dan ruangan keputren serta ruangan penganten. Pada rumah adat limas yang besar, kecuali ruangan-ruangan tersebut ada ruangan-ruangan paggar tenggalung, jogan, kekijing, ruangan untuk keluarga, untuk anak menantu, dapur dan sebagainya yang mempunyai luas keseluruhan sampai lebih dari 900 m2. Inti dari rumah adat limas adalah ruangan gegajah atau ruangan adat, merupakan ruangan yang paling besar dan paling luas dalam rumah. Lantainya terletak paling tinggi di kekijing ke lima dan d atas ruangan ini pula letak atap dari rumah induk, disangga oleh tiang-tiang inti yang tidak boleh ada sambungannya. Ruangan gegajah disebut juga sebagai ruangan wanita, oleh karena pelaksanaan semua upacara dan doa-doa dilakukan oleh kaum wanita di ruangan gegajah. Kaum pria tidak diperkenankan seorangpun ada di ruangan tersebut. Upacara-upacara yang dilakukan di ruangan gegajah, terdiri dari upacara kelahiran (syukuran), upacara khitanan, perkawinan dan kematian.
Bahan bangunan yang dipergunakan pada umumnya adalah kayu, yang dikumpulkan dengan sangat seksama sebelum rumah dibangun dankadang-kadang memakan waktu cukup lama. Untuk konstruksi utama atap (alang susunan) dipergunakan jenis kayu seru, yang pada saat ini sudah merupakan jenis kayu yang langka. Kayu ini tidak dipakai dibagian bawah rumah, karena tidak boleh terinjak kaki. Untuk tiang-tiang utamanya dipergunakan kayu uglen atau tembesu. Sambungan-sambungan sejauh mungkin dihindari, papan-papan untuk lantai dipasang dengan suatu sistem yang di Palembang diistilahkan sebagai lanang-betino.
Rumah adat limas diperkaya dengan ukiran-ukiran kayu, yang motif-motifnya diambil dari tumbuh-tumbuhan sebagai perlambang dari kehidupan. Motif-motif berasal dari bunga seperti kembang tanjung, melati, teratai, mawar, dan lain-lain, dari daum maupun buah-buahan atau dahan dan batang. Motif ukir-ukiran tersebut terdapat pula pada alat-alat rumah tangga, antara lain tempat tidur, pada batik Palembang atau kain-kain songket.
Pada awal pembangunan, diadakan musyawarah antara pemuka-pemuka masyarakat tentang pengaturan pelaksanaan dan upacara-upacara selamatan. Pekerjaan dimulai dengan pemasangan tapa’an di dalam tanah, di tempat tiang-tiang didirikan nantinya. Tiang-tiang berbentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 30 sampai 40 cm, sesuai dengan besar pohon yang ditebang. Menurut kepercayaan dan adat Palembang, hari yang baik untuk memulai dengan pekerjaan pembangunan rumah adat adalah hari Isnen (senin) pada awal bulan. Hari tersebut berdasarkan kepada empat peristiwa penting, yaitu bahwa pada hari Isnen, Allah SWT menjadikan segala yang tumbuh, pada hari Isnen tanggal 12 Rabi’ul-Awal pula Nabi Muhammad SAW dilahirkan, hijrah ke Madinah dan meninggal dunia. Bila pembangunan rumah telah selesai seluruhnya, sebelum rumah itu dihuni harus lebih dahulu didiami oleh tujuh orang janda (rangda). Kemudian, diadakan upacara selamatan sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT dengan iringan doa-doa untuk keselamatan para penghuninya di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: