Ikhlas dan Sabar.

Ikhlas … Tanpa ikhlas, satu-satu amalan itu ditolak oleh Allah swt. Kita harus mengunci niat untuk ibadat atau amalan semata-mata kerana Allah dan untuk Allah. Ikhlas yang sebenar-benarnya ikhlas sudah tentulah bersih hati daripada unsur riyak, nifaq dan ujub

  1. Kalam Allah tentang ikhlas sebagaimana Katakanlah (wahai Muhammad) “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dalam mengikhlaskan agama (ibadah) kepada-Nya”. (Surah al-Zumar:11)
  2. Katakanlah: “Allah jualah yang aku sembah dengan mengikhlaskan amalan agamaku kepada-Nya”. (Surah Az-Zumar:14)
  3. Dan tiadalah mereka disuruh melainkan supaya menyembah Allah serta mengikhlaskan agama kepada-Nya. (Surah al-Bayyinah : 5)

Imam al-Ghazali mengatakan, “ Sabar ialah suatu kondisi jiwa yang terjadi karena dorongan ajaran agama dalam mengendalikan hawa nafsu.”Dengan demikian, sabar dapat berarti konsekuen dan kosisten dalam melaksanakan semua perintah Allah. Berani menghadapi kesulitan dan tabah dalam menghadapi cobaan selama dalam perjuangan untuk mencapai tujuan. Karena itu, sabar erat hubungannya dengan pengendalian diri, sikap, dan emosi.

Apabila seseorang telah mampu mengontrol dan mengendalikan nafsunya, maka sikap/sifat sabar akan tercipta.Selanjutnya, sabar juga berarti teguh hati tanpa mengeluh, saat ditimpa bencana. Jadi yang dimaksud dengan sabar menurut pengertian Islam ialah rela menerima sesuatu yang tidak disenangi dengan rasa ikhlas serta berserah diri kepada Allah.

Dan dapat pula dikatakan bahwa secara umum sabar itu ialah kemampuan atau daya tahan manusia menguasai sifat destruktif yang terdapat dalam tubuh setiap orang. Jadi, sabar itu mengandung unsur perjuangan, pergulatan, pergumulan, tidak menyerah dan menerima begitu saja.

Sabar itu membentuk jiwa manusia menjadi kuat dan teguh tatkala menghadapi bencana (kekayaan maupun kemiskinan). Jiwanya tidak bergoncang, tidak gelisah, tidak panik, tidak hilang keseimbangan, tidak berubah pendirian. Tak ubahnya laksana batu karang di tengah lautan yang tidak bergeser sedikit pun tatkala dipukul ombak dan gelombang yang bergulung-gulung.Sifat sabar itu hanya dikaruniakan Tuhan kepada manusia, tidak kepada makhluk yang lain.

Sebab, di samping manusia mempunyai hawa nafsu, ia juga dianugerahi akal untuk mengendalikan hawa nafsu itu supaya jangan sampai merusak atau merugikan. Sedang makhluk hewani hanya diperlengkapi dengan hawa nafsu, tidak mempunyai akal. Oleh sebab itu ia tidak bisa bersikap sabar. Malaikat juga tidak memerlukan sifat sabar karena ia tidak memiliki hawa nafsu.

 

  1. Kalam Allah tentang Sabar “ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (QS. 2:45).
  2. Ingat cerita Nabi Yusuf , Mereka berkata:”Apakah kamu ini benar-benar Yusuf” Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (QS. 12:90).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: