Kiat Bicara Publik

BE LEARNER AND BE GROOVY
Apa yang kita lakukan disatu acara jadikan sebagai pelajaran yang berarti untuk menjadi lebih baik. Sepanjang perjalanan hidup kita akan selalu belajar sampe nyawa permisi berpisah dari raga. Untuk menjadi pembelajar sejati, kita juga harus rela untuk berbagi ilmu dengan yang lain. Kita belajar berdiri dengan cara berdiri, kita belajar membaca dengan cara membaca, kita belajar membawa motor dengan cara membawa motor, jadi … untuk belajar menjadi pembicara di depan publik…dengan cara jadilah pembicara di depan publik. Do it ! lakukan ! karena hanya itu satu-satunya cara untuk membuktikan teori-teori yang kita pelajari. Lakukan dengan gembira. Hati yang gembira akan mengusir baying-bayang ketakutan dan kecemasan.
“Gimana ?” “Ah..aku pikir jadi pembicara itu hanya cukup bersuara nyaring, just LOUD and LOUDER” “NOT JUST LOUDER, dong !” “Oooh…itu…salah seorang trainer pernah mengatakan hal ini berulang kali di sessi motivasinya. Ia bilang, Allah sungguh takjub melihat orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu. Orang itu memulainya dari nol, merayap, merangkak, berjalan ia berusaha untuk mencapai tujuannya, tapi begitu tinggal satu langkah lagi ia akan mencapai tujuannya. Ia berhenti dan berbalik, syetan tertawa disampingnya,”
EFFECTIVE
Masih ingat kepanjangan dari kata diatas kan ? E = Enthuasiastic, F = Focus on Target, F yang kedua = Full Body Language, E = empathy …nah lanjut ya … C = Change and creating an opportunity. Seringkali kita tidak mendapat informasi dengan jelas kecenderungan dan motivasi audience. Tiba-tiba kita dihadapkan dengan public yang pasif atau public yang sangat beragam – dari anak tk sampai orangtua berumur limapuluh-an- atau publik yang cuek atau audience yang datang karena diwajibkan. Bagaimana pesan yang kita siapkan efektif tersampaikan pada audience ? Change ! change ! kita perlu melakukan perubahan. Yang banyak di pecah menjadi kelompok-kelompok, yang kecil diperbesar, mengubah tata letak, membagi dan mengurangi. Apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana adalah teman baik perubahan untuk menghadirkan kesempatan yang baru dan lebih menarik. Pada situasi seperti ini, kreatifitas pembicara akan menentukan semua akan baik-baik saja atau semua berubah menjadi Luar biasa ! T= Talk with your heart. Banyak pembicara terhanyut dengan pembicaraaannya sendiri dan meninggalkan audiencenya di belakangnya. Pembicara membiarkan audience menatapnya dengan kerut-kerutan dahi yang makin lama makin bertambah tanpa melakukan apa-apa. Jika it uterus berlanjut, audience akan kehilangan antusiasnya dan akan cepat merasa bosan. Berbicaralah dengan hati. Sentuhlah dengan hati, maka kita akan peka terhadap perubahan yang terjadi ditengah audience. Wajah termotivasi, rupa cuek, raut boring, guratan yang menyimpan banyak masalah di setiap wajah audience akan tampak jelas jika kita bisa lebih peka. Saat kita dihadapkan dengan kondisi demikian, berikanjeda sejenak dan pancinglah umpan balik dari audience.
I = Inspiring word. Untuk memotivasi peserta gunakan kata-kata yang sederhana dan gampang diingat. Galilah ide dari Al-Qur`an, hadits, kata-kata bijak para tokoh dan ungkapkan dengan ekspresi kata yang lebih pas menurut pembicara. Kata-kata itu menjadi kata-kata unik milik kita yang diharapkan dapat menimbukan semangat dan inspirasi bagi pendengar.
V = Voice Your Word. Suarakan kata-katamu. Bentuklah rima dan/atau singkatan untuk mempermudah ingatan pada point-point yang kita anggap penting. Gunakan intonasi keras – lembut, cepat lambatnya suara untuk membangun konsentrasi publik. Ulanglah beberapa kali point-point yang penting. Saat tiba pada hal-hal yang penting, buatlah jenak-jenak dalam suara kita, jangan terburu-buru. AlQur`an mengajarkan kita untuk menggunakan kata-kata/bahasa yang berbeda untuk obyek yang berbeda. Qaulan maisyura untuk orang tua, qaulan baligha untuk pencinta puisi dan sastra, bayan untuk anak-anak, dialogis untuk pemuda. Jika heterogen ? mix and match lah ya…
E = Expectation and acceptation. Ukurlah target yang kita buat diawal dengan menerima dan memancing umpan balik dari peserta. Mintalah kritik dan saran dari audience baik secara tertulis maupun langsung sebagai bahan evaluasi bagi kita.

BE FIGHTER
Pelajaran Kimia kosong, Pak Surya cuti selama seminggu karena menikah. Walaupun Pak Surya meninggalkan tugas yang menumpuk untuk dikerjakan, tetap saja anak-anak kelas 2 IPA-1 tidak merasa terganggu dan seperti masyarakat SMU lainnya mereka lebih tertarik membicarakan olahraga, trend terbaru pakaian, playstation, gossip selebrities dan banyak lainnya kecuali tugas kimia.
Namun hari ini lain, jika biasanya terbentuk kelompok-kelompok secara alami dengan tema yang beragam jenis, hari ini kelas 2 IPA-1 berbeda. Mereka menyeret minat mereka ke sosok perempuan yang didaulat untuk melanjutkan sessi belajarnya Ivo di depan kelas.
STEP 2 : BE FIGHTER
Untuk hari H password yang kita gunakan adalah EFFECTIVE.
Apa itu EFFECTIVE ?
E = Enthuasiastic. Antusias adalah perasaan yang bersemangat dengan full energy yang membawa kita dapat menyalurkannya kepada orang lain. Saat menjadi pembicara kita harus mempersiapkan diri kita dengan antusias. No excuses. Pembicara yang mempersiapkan dirinya dengan antusias tidak punya alasan untuk berpenampilan lusuh, kucel, lepek dan lesu karena jauhnya perjalanan, misalnya atau banyaknya pekerjaan yang dilakukan sebelumnya. Tampil cerah, bersemangat penuh gelora dan mengunci masalah lain di luar tempat kgiatan adalah satu-satunya cara untuk tampil didepan publik.
Mari bersama kita cermati kesaksian seorang mujahid, ia berkata pada suatu hari ia pergi menemani pimpinannya ke station Thantha untuk menghadiri undangan salah seorang tokoh masyarakat dalam rangka meresmikan masjid. Malamnya diisi dengan membuat majelis-majelis ilmu dan mengajak masyarakat untuk mengenal agamanya. Pagi besoknya ia kembali menemani pimpinannya ke statiun thantha untuk ke Kairo, mereka shalat subuh di salah satu sudut station. Sesampai di Kairo rombongan itu berpisah kembali pulang ke rumah masing-masing, tetapi pimpinannya pergi ke sekolahnya untuk mengajar di jam pertama. Itulah kesaksian kekuatan enthusiastic yang dimiliki Ustadz As Syahid Hasan Al Bana yang diceritakan oleh penerusnya Ustadz Umar Timisani.
In Time. Pembicara yang baik akan datang bukan tepat waktu melainkan diawal waktu, minimal 10-15 menit sebelum acara dimulai. Smell so good. Perhatikan bau yang melekat dengan tubuh kita. Bau badan, bau mulut, bau kaos kaki, dll. Jika kita ragu-ragu dengan fungsi hidung yang kita miliki, tanyakan yang ada disekitar kita atau cukup perhatikan ekspresi yang mereka perlihatkan. Pekalah terhadap bau. Introduce Yourself. Memperkenalkan diri. Kadang lebih baik dilakukan oleh panitia. Listen on environment. Perhatikan adab-adab sosial yang berlaku.
F = Fokus on Target. Seringkali penunjang materi yang telah kita siapkan jauh hari sebelumnya tidak bisa kita gunakan ketika dilapangan. Slide yang telah kita buat semenarik mungkin tidak bisa ditayangkan karena alatnya tidak ada, OHP belum diambil, papan tulis penuh dengan coretan spidol permanent yang tidak bisa dihapus, peserta yang sangat banyak atau sangat sedikit atau mic mati. Jika kondisi begitu yang terjadi dan kita tidak bisa mengupayakan semuanya kembali membaik, tidak perlu berlama-lama. Show must go on ! Audience menunggu apa yang ingin kita sampaikan.
Fokus on Target membuat kita berkonsentrasi pada pesan yang ingin kita sampaikan pada peserta dan apa yang diperlukan peserta agar dapat dengan nyaman menyimak pesan dari kita. Otak manusia memiliki 4 panjang gelombang.
Beta; kondisi terjaga penuh otak kiri dan otak kanan bertukar informasi selama 13-25 putaran/detik (ppd). Beta, merupakan kondisi saat kita melakukan pekerjaan kantor, hitung-hitungan fisika atau matematika, berdiskusi atau sedang berolahraga
Alpha, kondisi rileks-waspada. Kita sering mencapai gelombang Alpha di saat shalat, lebih-lebih saat qiyamu lail atau saat-saat kita sedang bermuhassabah. Otak kiri dan otak kanan melakukan pertukaran informasi 8-12 ppd. Pada saat inilah otak manusia siap untuk menerima informasi dan menyimpannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk mencapai kondisi Alpha kita menggunakan kisah-kisah menyentuh hati, cerita berhikmah atau perenungan dan ada baiknya di iringi musik yang lembut.
Theta, kondisi awal tidur 4-7 ppd Delta, kondisi tidur nyenyak 0,5-3 ppd F = Full Body Language. Otak manusia menyerap informasi yang diberikan dengan kata-kata hanya 7 %, jika menggunakan nada dan suara otak menyerap sebanyak 38 %, jika menggunakan body language pesan akan diserap sebanyak 55 %. Kemampuan bahasa tubuh mempengaruhi pendengar membuat setiap pembicara harus memperhatikan beberapa hal.
Kontak mata. Rasulullah Saw jika berbicara dengan orang lain selalu menimbulkan perasaan hangat dan dihargai pada kawan bicaranya, itu karena Rasulullah selalu menjaga kontak mata dengan siapa saja yang diajaknya bicara. Oleh karena itu bayangkan bagaimana kesedihan Wahsy saat ia dihukum untuk tidak bersitatp dengan mata Rasulullah. Pembicara yang ingin pesannya tersampaikan menjaga kontak mata dengan seluruh audiencenya tanpa satupun merasa di abaikan.
Gerakan refleks yang tidak perlu dan mengganggu peserta. Misalnya, gerakan berulangkali memperbaiki letak jilbab, gerakan mengangkat celana atau menyentuh reistleitingnya seolah-olah tidak trekancing dengan baik. Gerakan maju mundur atau ke kiri dan ke kanan yang dilakukan dengan ritme yang cepat. Memasukkan satu atau kedua tangan kedalam saku baju atau celana atau meletakkan satu atau keduanya tangan di balik punggung atau bersedekap dada sering membuat kesan tidak hangat dan cukup mengganggu.
Perhatikan gerakan tangan yang kita lakukan, apakah gerakan itu membuat daerah aman setinggi dada dan pusar ? latihlah untuk keluar dari daerah aman dengan mengacungkan tangan setinggi kepala atau menjulurkan tangan sepanjang rentangan.
Untuk membuktikan kekuatan bahasa tubuh cobalah permainan sederhana ini. Berdirilah ditempat yang bisa dilihat oleh seluruh audience. Fokuskan perhatian peserta pada pembicara kemudian mintalah peserta untuk mengikuti kata-kata yang diucapkan pembicara. Mengikuti kata-kata pembicara. “angkat satu tangan !” pembicara juga ikut mengangkat satu tangan, “pegang lutut !” pembicara terus melakukan semua yang keluar dari mulutnya, semakin lama semakin cepat diakhir cobalah memberi aba-aba “sentuh dengan lembut, saya minta sentuh dengan lembut…meja di depan anda !” saat mengucapkan aba-aba itu pembicara melakukan hal yang sebaliknya, memukul meja dengan keras, berapa banyak peserta yang ikut memukul meja dengan keras ? Kita bisa membuktikan gerakan yang kita lakukan berpengaruh lebih besar disbanding kata-kata yang kita ucapkan disaat yang bersaman.
E = empathy. Be empathic, not just symphatic/Think what they think/Feel what they feel/Serve what you want them to serve you. Disalah satu camp pelatihan mahasiswa, seorang fasilitator pelatihan mengeluh pada koordinator panitia tentang kondisi seorang peserta, sebut saja Riska, namanya. Pelatihan sudah memasuki hari ke 3 hari dari 6 hari waktu pelatihan yang disediakan, Riska hanya mengikuti 2 sessi termasuk perkenalan artinya jika ia tidak ikut hari dihari ketiga ini total ia tidak berpartisipasi dalam 9 sessi pelatihan. Alasannya sakit. Yang membuat fasilitator itu heran, menurut laporan tim medis Riska tidak mengalami gangguan kesehatan yang membuat ia tidak mampu mengikuti pelatihan. Khawatir perilaku Riska mempengaruhi teman-teman dikelompoknya atau peserta yang lain juga melihat kondisi Riska yang terlihat tidak bersemangat, fasilitator itu menganjurkan agar panitia membolehkan Riska untuk pulang. Koordinator panitia –Korta- mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan dan saran fasilitator tersebut dan mengambil tindakan untuk bertemu dengan Riska.
Hari itu Riska –seperti laporan fasilitatornya-masih meringkuk di tenda tim medis. Bekas-bekas airmata tampak jelas membuat jejak dikedua pipinya, ia memang tampak kuyu dan layu seperti orang sakit. Lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat Riska berbicara kepada Korta. Tadinya ia hanya menanggapi pertanyaan dengan anggukan dan gelengan kepala atau diam namun setelah dijelaskan tentang beberapa hal terkait dengan aturan camp pelatihan, tujuan pelatihan dan target yang ingin dicapai, Riska mulai berbicara. Begitu Riska berani angkat suara, sang Korta dapat melihat di mana kesulitan sebenarnya yang dihadapi oleh pesertanya. Dengan cepat, penuh pengertian dan tanggungjawab sang Korta berhasil mengembalikan Riska ke kelompoknya, mengikuti pelatihan dan menikmati kegiatan dengan gembira dan bersemangat. Sang Korta melakukan koordinasi yang cepat tanggap dengan fasilitator kelompok Riska, trainer dan teman-teman di kelompoknya agar dapat membantu Riska untuk berbaur baik dengan kelompoknya ataupun dengan peserta – peserta yang lain tanpa merasa di istimewakan atau dianakemaskan. Karena Riska, adalah peserta yang mengalami gangguan pendengaran. Perhatikan ucapan Riska di malam perpisahannya,
“Saat datang ke camp pelatihan ini saya berpikir, jika saya bisa kuliah bersama orang normal lainnya tanpa alat bantu dengar, saya juga bisa ikut dalam camp pelatihan ini dengan sama mudahnya. Hari pertama disessi perkenalan, permainan ‘The King’ itu membuat saya terlihat jelas berbeda dengan yang lain, tapi saya masih berpikir semua akan baik-baik saja. Saya tidak tahu, ternyata di sesi ke dua keadaannya lebih tambah parah, saya tidak bisa mendengar jelas perintah trainer, saya juga tidak bisa dengan cepat mengikuti permainan yang mengedepankan kecepatan suara dan kecepatan gerak. Saya merasa menjadi seekor tikus yang terperangkat di maze percobaan. Ada banyak tawa di sekeliling saya, tapi saya tidak bisa ikut tertawa bersama. Saya pikir, this is enough for me. Saya sedih. Lebih dari segalanya saya merasa kembali cacat. Di saat saya ingin berbalik pulang membawa kesedihan saya, ada banyak tangan yang menahan saya di sini. Koordinator panitia, seluruh panitia, fasilitator saya, trainer, temamn-teman…semua merangkul saya dalam semangat yang sama. Kita bisa maju, kalau kita pikir bisa. Terima kasih untuk kesempatan berkembang bersama kalian semua, saya tidak akan melupakannya. Lebih dari segalanya, mengutip kata fasilitator saya, saya tidak ingin syetan tertawa disamping saya,”
Itu adalah unjuk kekuatan empathic. Itu adalah empathic.
BE PATIENT
Jauh-jauh hari sebelum kita diminta untuk jadi pembicara kita kudu-must-wajib-harus
a. Niat yang tulus. Sesungguhnya segala kebaikan yang kita kerjakan harganya sesuai dengan niat kita, jika niat kita lillahi ta’ala, hanya karena Allah saja, semoga pintu keberkahan selalu bersama ucapan dan tindakan kita, jika niat kita hanya untuk mendapatkan sanjungan dan harta saja maka hanya itu yang kita dapatkan.
b. Lengkapi diri dengan informasi. Galilah sebanyak mungkin informasi yang terkait dengan materi yang ingin kita sampaikan. Buatlah mind mapping –peta pemikiran- hubungkan semua hal yang terkait buatlah cabang-cabangnya, identifikasi dan susunlah point-point penting. Misalnya ; RUU Pornographi–DPR-Seniman–Selebriti–masyarakat-orangtua-anak-partai politik-media elektronik-media cetak-duit-moral-kerja-sponsor-pelacuran-pemerkosaan-child abuse-hukuman- …
c. Men-Jiwa-i tujuan pembicaraan. Ada tiga kemampuan pembicara publik
1. Pembicara reading. Pembicara yang kemampuan menyampaikan pesannya dengan cara membaca. Tekstual, dan kaku. Presiden RI ke 2 sering melakukannya.
2. Pembicara having. Pembicara yang kemampuan menyampaikan pesannya di peroleh karena bakat. Ia dapat menyampaikan pesan pada khalayak ramai dengan jelas, dapat mempengaruhi mereka dan dapat membuat mereka bergerak sesuai dengan idenya. Presiden RI yang pertama, Stalin, Hasan Albana, AA Gym, Hideyoshi Taikichiro.
3. Pembicara Being. Pembicara yang memiliki kemampuan menyampaikan pesan karena ia mempelajarinya.
d. Kenali Audiense. Untuk menjadi pembawa pesan yang berbicara di depan banyak orang, pastikan kita mengetahui beberapa hal penting tentang audience kita.
1) Jumlah audience. Berapa laki-laki, berapa perempuan.
2) Status audience. Jomblo berapa orang, menikah berapa orang.
3) Pendidikan
4) Kecenderungan perilaku dan motivasi mereka mengikuti acara
5) dll
e. Siapkan rencana untuk menghadapi keadaan yang ideal dan rencana untuk menghadapi keadaan yang paling buruk.
f. Point terakhir di STEP BE PATIENT ini adalah point yang mengikat seluruh point yang lain dan memberikan kekokohan di step selanjutnya. Kekuatan IBADAH ! kekuatan hubungan kita dengan pemilik semua kekuatan di langit dan di bumi. Sponsor utama kerja kita adalah point ini. Kekuatan Ibadah. Sejatinya, semakin sering seorang pembicara menyampaikan pesan bagi orang lain semakin sering ia berkonsultasi dengan yang MAHA BENAR.
“Jadi mulai sekarang tidak alasan untuk bolos qiyamu lail,”
“Tendriii … teganya…!?” suara yang bernada geram itu melengking di ruangan yang tidak seberapa luas yang dibagi dua oleh empat papan tripleks. Dua anak perempuan yang berseragam putih abu-abu menoleh kea rah si empunya suara sambil menggunakan ekspresi ‘where-do you think-you-are ?’ yang dibalas kembali dengan tatapan mata naga.
“Kau menyerahkan aku ke kandang buaya ? kenapa mendaftarkan namaku untuk lomba debat mewakili kelas ?” mata naga itu kini berubah diliputi selaput kabut bening. Huwa…jangan nangis dong…!
“Sorry…afwan…maaf…nyuwun pangapunten…aduuh…itu tadi mendadak dan mendesak. Bener deh, kalau tidak di tantang aku nggak bakalan mengajukan namamu untuk mewakili kelas 2 IPA-1,”
“Ivo…aku minta maaf, tapi kelompok Meta dan kawan-kawan jadi tambah belagu semenjak Resti dipastikan tidak boleh lagi mengikuti lomba debat tahun ini. Mereka bilang kelas kita kelas buangan, Resti di kata gen yang bermutasi di kelas kita. Lagi pula seluruh kelas mendukung, kok,”
“Mendukung…mendukung apanya ? mau bikin aku Ivo gulai, Ivo sate, Ivo guling untuk seluruh murid sekolah kita ? aku tidak bisa bicara di depan banyak orang, itu sudah semua orang tahuuuu, Tendri !”
“Justru karena itu, Vo. Aku bilang, kalau perwakilan dari kelas Meta tidak masuk final dan kelas kita yang masuk final mereka sekelas harus ikut kajian mingguannya rohis selama tiga bulan berturut-turut atau harus membayar 50 juta ke kelas kita. Mereka setuju asal wakil dari kelas kita itu, kamu,” Tendri memaksa senyum kikuk yang berbuah seringai musang.
“Dari mereka siapa ?”
“Kresna,”
“Apa ? dia kan tahun kemarin juga sudah pernah ikut dan berhasil sampai babak semifinal. Otak kalian sedang cuti hamil, ya ?” Suara Ivo kembali tinggi.
“Habis mau bagaimana lagi, habis tandatangan perjanjiannya, aku baru sadar belum menanyakan wakil dari kelas mereka siapa…ya …gitu deh,”
“Resti bersedia membantu untuk menjadi lawan debatmu, Vo dan tentunya senseimu. Agung akan menyiapkan tampilan materi di multimedianya, biar tambah wowww… bagaimana ?” bibir Ivo mengumpul merengut. Bisa apa lagi ? perjanjian sudah ditandatangani dibawah stempel OSIS dan meterei senilai enam ribu rupiah. Ada tandatangan 2 orang saksi, ketua OSIS dan ketua panitia lomba debat. Ia rasanya ingin lenyap dari muka bumi ini. Seorang Ivo yang selalu berkeringat dingin, kikuk dan gagu kalau di minta untuk berbicara di depan banyak orang menjadi perwakilan kelas untuk lomba debat ? dua bulan lagi ! Wooo-aaah ! jika ini mimpi…plis dong ah…segera ada yang bangunin !

 

Angin semilir lembut membawa satu daun kering jatuh ke tengah pekarangan Rumah Resti. Mata Ivo mengikutinya. Daun kering itu seperti aku, pikirnya. Tidak memiliki kekuatan untuk menolak masa rapuhnya dan terbawa angina ke tengah-tengah pekarangan, sebentar lagi ia akan tinggal serpihan-serpihan debu begitu kaki-kaki manusia atau ban motor atau mobil melindasnya remuk. Seperti nasibku dua bulan lagi. Hhhh…Ivo membuang nafasnya, jerih.
“Hayo…one dollar for your mind, what a moment left behind ?” Resti keluar dengan baki berisi air dingin dan kue cokelat Tosca. Uhmm..nyummi.
“Aku serasa akan di eksekusi dua bulan lagi,” bisik Ivo lirih. Resti tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa sih yang bikin kamu tidak berani berbicara di depan banyak orang ? terus terang lho, Vo, aku, Tendri dan teman-teman lain heran abis sama kamu. Kamu bisa bercerita panjang lebar tidak habis-habisnya di kantin saat istiraat atau dilapangan basket saat olahraga, tapi kamu langsung gagu dan mengunci mulut rapat-rapat kalau diminta bicara di depan kelas. Kan sama saja, Vo. Di kantin kamu bicara di depan banyak orang…di la..,”
“Beda, Res… dikantin atau dilapangan saat aku berbicara orang tidak perlu menatap aku, yang mau dengerin silahkan yang nggak mau ya…rugi banget…he.he.he…the point is..aku bukan fokus perhatian mereka,”
“Kenapa memangnya kalau jadi fokus ? malu ?” Ivo diam sebentar kemudian menggelang.
“Takut ?”
“Mungkin…”
“Why ?”
“Aku takut mereka bosan dan menjuluki aku si tukang jual obat,” ha..ha..ha…Resti tertawa geli dan panjang. Sebelah alis mata Ivo terangkat, bertanya.
“Afwan…” Resti menutup mulutnya dengan kedua tangannya menghentikan tawa gelinya yang masih menggoda.
“Afwan…habisnya…ehm…pembukaan untuk pelajaran kita siang ini adalah memperhatikan tukang jual obat,”
Haaah ??? nyindir nih ?

 

Bagaimana kita berbicara sama pentingnya dengan apa yang ingin kita sampaikan
Perhatikan tukang obat di pasar bagaimana ia menarik begitu banyak orang berkerumun ke tempatnya
1. Pilihan katanya tepat, biasanya provokatif, persuasive, hiperbola dan sering di
ulang-ulang. Perhatikan ! kadang-kadang tukang obatpun berpantun.
2. Ia menggunakan intonasi yang naik turun, keras-lembut, cepat-lambat sehingga
membuat orang semakin tertarik
3. Body Language, si tukang obat biasa bertepuk tangan, mengayung-ayunkan
tangan, melompat-lompat, berpantomim, tidak jarang menyayat tubuhnya untuk
membuktikan salah satu obat yang dibawanya ampuh menyembuhkan luka
tersayat benda tajam.

 

Coba perhatikan lagi. Banyak dari tukang obat biasa menggunakan satu istilah dalam berbagai bahasa asing maupun bahasa daerah. Ia menyapa orang yang lalu lalang di sekitarnya dengan ciri-ciri dan karakter fisik yang tampak. Misalnya, orang yang berkulit kuning gading dan bermata segaris pedang dipanggilnya enci atau koko, orang yang perawakan arab disapa umi-abi atau ukhti-akhi, anak muda berdialek madura di panggilnya cong, terdengar disampingnya orang memanggil uda, ia ajak berbicara padang. Hebat, bukan?

 

Tukang obat tidak berhenti bicara dalam hampir 2 jam nonstop bahkan lebih dengan kekuatan suara yang sepertinya tidak banyak berkurang. Orang menyebutnya, wajar! Thats not an amazing happen if just one way and only to get money…! tidak ada yang aneh…itu hanya cara si tukang obat mencari uang. Really ?
Sekarang, jika ada yang mau memberikan hadiah 1 M kepada para penonton si tukang jual obat untuk berkoar-koar selama 2 jam di pasar itu dan mampu menjual obat sebanyak yang dijual tukang obat selama 2 jam ? adakah yang sanggup ? perkiraannya 1: 1000 kejadian ada orang yang sanggup, mungkin, kecuali jika ada tukang obat yang lain yang sempat-sempatnya nongkrong melihat saingannya jualan he….he…..he……..
Mengapa 1=1000 ? Karena tidak ada satu orangpun yang berkumpul disekitar tukang jual obat itu yang mempersiapkan dirinya untuk berkoar-koar apalagi menghafal banyak macam obat dan khasiatnya selama 2 jam lebih. You Got It ? YUPE !!! PERSIAPAN.
“Jenderal yang memenangkan pertempuran membuat banyak perhitungan di kuilnya sebelum pertempuran terjadi” (sun tzu)
“Kamu belajar ilmu perang Sun Tzu ?” tanya Tendri yang baru saja menghempaskan tubuhnya di kursi samping Ivo. Ivo mendelik. Kutu ! mengganggu saja…
“Strategi perang Sun Tzu beberapa dapat diterapkan di banyak bidang,”
“Strategi perang Rasulullah semuanya bisa diterapkan di semua bidang,” sambar Tendri cepat.
“Asal kita mau menggalinya…”tambahnya sambil mencomot kue Tosca yang terlarang bagi Ivo sampai sessi belajarnya selesai.
“Tadi kayaknya bahasan kita mau masuk ke tahap PERSIAPAN ?” Ivo mengalihkan matanya dari toples kue Tosca ke Resti sedang memainkan HP.
“YUPE ! kita punya tiga tahap untuk menjadi pembicara professional. Tahapan pertama, BE PATIENT; ke dua BE FIGHTER ; ke tiga BE LEARNER and BE GROOVY”
Ada banyak lho kendala untuk berbicara di depan publik apalagi jika yang ingin kita sampaikan merupakan nilai-nilai yang dipandang aneh, sok suci dan kolot oleh beberapa orang. Kendala-kendala itu diantaranya, adalah :
Ego yang dimiliki setiap orang. Takut berubah. Perasaan malu, takut dicemooh, khawatir gagal adalah reaksi yang wajar untuk tahap tertentu. Namun jika karena hal-hal tersebut kita memilih untuk berdiam diri dan terkungkung ditempat yang aman kesempatan kita untuk berkembang menjadi mnauisa yang lebih baik akan hilang begitu saja. Bukankah Allah selalu mengingatkan kita dalam AlQur`an “Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum kaum itu mau mengubah dirinya sendiri”
Asumsi yang salah dan berlebihan. Gagal dan salah hanyalah sebuah kata yang akan kita temui jika kita bergerak melakukan sesuatu. Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah orang yang tidak pernah berbuat sesuatu. Bukankah Allah memuji orang-orang yang melakukan kesalahan dan kemudian bertaubat ?
Perbedaan istilah dan bahasa
Terlalu banyak gangguan (ribut, hujan deras, banyak anak kecil yang menangis, dlsb)
Lemah semangat, dll
Untuk meminimalisasi rintangan dan kendala-kendala itu kita lakukan STEP BE PATIENT.

Inspiring idea:
– AlQuran terjemahan
– Reza M. Syarif. 2005. Life Excellent,. Prestasi. Jakarta.
– Steven Covey. 1994. Berpikir dan Berjiwa Besar.
– Michael Michalko. 1991. Thinkertoys. Ten Speed Press, Berkeley. California
– M. Abdul Hamid. 2001. 100 Pelajaran dari Pemimpin Ikhwanul Muslimin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: