Kedatuan Sriwijaya.

Kedatuan atau Kerajaan Sriwijaya

Pada 17 November 1920 ditemukan prasasti Talangtuo di Desa Gandus, Palembang. Prasasti berisi tulisan huruf pallawa berbahasa Melayu kuno bertarikh 684 Masehi itu menyebutkan tentang pembangunan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Pada akhir Desember 1920, ditemukan prasasti Kedukan Bukit di tepi Sungai Kedukan Bukit, Palembang. Prasasti bertarikh 682 Masehi yang dipahat di batu kali itu menceritakan perjalanan Dapunta Hyang bersama balatentaranya untuk mendirikan wanua (tempat tinggal) Sriwijaya.

Prasasti Telaga Batu ditemukan di daerah Telaga Batu, Sabokingking, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, tahun 1918. Prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi ini berbentuk unik, yaitu lempengan batu selebar 1,4 meter yang bagian atasnya dihiasi tujuh kepala ular kobra. Bagian bawah lempengan dilengkapi cerat untuk mengalirkan air saat berlangsung upacara. Selain berisi kutukan, prasasti ini mencantumkan perangkat birokrasi Kerajaan Sriwijaya secara lengkap.

Prasasti lain yang juga berisi kutukan adalah prasasti Boom Baru yang ditemukan di daerah Boom Baru, Palembang, pada tahun 1992. Ada juga prasasti dari daerah lain, seperti prasasti Palas Pasemah dan prasasti Bungkuk dari Lampung. Selain itu, ditemukan potongan-potongan prasasti, arca, manik- manik, mata uang, struktur bangunan, potongan kapal, dan lebih dari 16 situs di Palembang.

Empat situs di antaranya memiliki penanggalan pasti sekitar abad ke-7 sampai dengan abad ke-8 Masehi, yaitu situs Candi Angsoka, prasasti Kedukan Bukit, situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di Riau, Jambi, dan Thailand.

Buku Panduan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya menyebutkan, berbagai prasasti dan peninggalan itu menggambarkan Sriwijaya telah berkembang sebagai kerajaan maritim yang besar, yang melakukan ekspansi hingga menguasai wilayah Malayu, Pulau Bangka, dan Lampung. Dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, Sriwijaya dapat menguasai jalur perdagangan internasional, serta pelayaran dari India ke China dan sebaliknya.

Berita dari China dan Arab menyebutkan, kapal-kapal Sriwijaya juga berlayar ke China dengan membawa berbagai komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas, dan perak. Barang-barang itu dibeli atau ditukar dengan porselin, kain katun, atau kain sutra.

 

Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya :

  1. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Kedukan Bukit, di tepi Sungai Talang dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Isi prasasti tersebut menceritakan perjalanan suci/Sidayatra yang dilakukan Dapunta Hyang, berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara sebanyak 20.000 orang.
  2. Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat kota Palembang berangka tahun 606 Saka / 684 M. Prasasti ini menceritakan pembuatan Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana
  3. Prasasti Telaga Batu ditemukan dekat Palembang berangka tahun 683 M.
  4. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur pulau Bangka berangka tahun 608 M
  5. Prasasti yang disebut terakhir yaitu Prasasti Telaga Batu, Kota Kapur, Karang bukit, dan Palas Pasemah menjelaskan isi yang sama yaitu berupa kutukan terhadap siapa saja yang tidak tunduk kepada raja Sriwijaya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: